Kata “Aljabar” yang kita kenal sekarang diambil dari Judul Buku “Hisab Al-Jabr wa’l Muqabalah” (perhitungan dengan restorasi dan reduksi) karya seorang Sarjana Arab bernama Muhammad Al Khwarizmi (780 – 850 M) pada sekitar 830 M.
Restorasi
maksudnya menyederhanakan sebuah rumus dengan menggunakan operasi yang sama di
kedua sisinya.
Sedangkan
Reduksi berarti mengombinasikan bagian yang berbeda dari sebuah rumus kemudian
menyederhanakannya.
Pada
tahun 1591, seorang ahli matematika Perancis bernama Francois Viete
menciptakan sistem simbol aljabar secara lengkap. Dalam bukunya yang berjudul “In
Artem Analyticam Isagoge” (pengenalan seni-seni analitis) ia menyatakan
bahawa huruf-huruf konsonan (B, C, D, dst) dapat digunakan untuk mewakili angka
yang belum diketahui sedangkan huruf vokal (A, I, U, E, O) dapat digunakan
untuk mewakili angka yang diketahui.
Pada
tahun 1637 dalam bukunya yang berjudul “Discourse de la Methode” Rene
Descartes menjelaskan bagaimana
susunan-susunan geometris dapat diubah ke dalam persamaan-persamaan aljabar dan
mulai memperkenalkan x, y, z untuk mewakili variabel-variabel serta simbol +
dan – untuk operasi penjumlahan dan pengurangan.
Kemudian
setelah periode tersebut banyak ilmuwan lainnya yang merumuskan teori-teori
penemuannya dengan menggunakan aljabar salah satunya yakni menghitung kecepatan
bergerak suatu objek oleh Newton. Karena inilah aljabar disebut sebagai basis
ekspresi matematis bagi kebanyakan rumus-rumus ilmiah.
Aljabar
adalah suatu bentuk matematika yang dapat mempermudah masalah-masalah yang
sulit dengan menggunakan huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang belum
diketahui dalam perhitungan.